Astrologi & Shio

Wariga Bali: Astrologi Tradisional Bali

MistikID 3 menit baca
Wariga Bali Astrologi Tradisional Bali

Bali dikenal sebagai pulau seribu pura, tetapi juga sebagai penjaga tradisi astrologi yang telah berusia ratusan tahun. Tradisi ini dikenal dengan nama Wariga sistem penanggalan dan perhitungan hari yang digunakan untuk menentukan hari baik (dewasa ayu) dan hari buruk (dewasa ala).

Bagi masyarakat Bali, Wariga bukan sekadar ramalan. Ia adalah panduan hidup yang mengatur berbagai aspek kehidupan, mulai dari upacara adat, pertanian, hingga pernikahan.

Di MistikID, kami menghadirkan penjelasan lengkap tentang Wariga Bali mulai dari sejarah, sistem, hingga fungsinya dalam kehidupan modern.

Apa Itu Wariga?

Wariga adalah sistem astrologi tradisional Bali yang menggabungkan siklus Pawukon (7 hari) dengan Saptawara (5 hari), mirip dengan weton di Jawa.

Menurut Fred B. Eiseman dalam bukunya Bali: Sekala and Niskala (1990), Wariga adalah bagian dari warisan budaya Bali yang masih dipraktikkan hingga kini, terutama dalam konteks upacara keagamaan.

Sejarah Wariga

Wariga berasal dari tradisi Hindu-Buddha yang masuk ke Bali sekitar abad ke-8 hingga ke-10 Masehi. Sistem ini kemudian berkembang dengan tambahan unsur lokal Bali dan pengaruh Jawa dari era Majapahit.

Dalam lontar-lontar Bali kuno, Wariga tercatat sebagai salah satu ilmu pengetahuan suci yang wajib dikuasai oleh para pemangku (pendeta) dan penglingsir (tetua adat).

Sistem Pawukon dan Saptawara

Pawukon adalah siklus 7 hari yang terdiri dari:

  • Redite (Minggu)

  • Soma (Senin)

  • Anggara (Selasa)

  • Buda (Rabu)

  • Wraspati (Kamis)

  • Sukra (Jumat)

  • Saniscara (Sabtu)

Saptawara adalah siklus 5 hari pasaran yang terdiri dari:

  • Umanis

  • Paing

  • Pon

  • Wage

  • Kliwon

Gabungan Pawukon dan Saptawara menghasilkan 35 kombinasi yang masing-masing memiliki makna dan pengaruh tersendiri.

Fungsi Wariga

Wariga digunakan untuk:

1. Menentukan hari baik untuk upacara adat
Misalnya untuk ngaben (kremasi), mepandes (potong gigi), atau pawiwahan (pernikahan).

2. Menentukan waktu bercocok tanam
Petani Bali menggunakan Wariga untuk menentukan kapan mulai menanam padi.

3. Menentukan arah rumah
Wariga juga digunakan untuk menentukan arah hadap rumah yang baik.

4. Menentukan nama anak
Dalam tradisi Bali, nama anak sering dikaitkan dengan wuku (siklus 30 minggu) kelahirannya.

Wariga di Era Modern

Meskipun Bali telah menjadi destinasi wisata internasional, Wariga tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Banyak keluarga masih berkonsultasi dengan pemangku atau penglingsir sebelum mengadakan upacara besar.

Di era digital, Wariga semakin mudah diakses melalui aplikasi kalender Bali dan kalkulator dewasa ayu online.

Wariga Bali adalah warisan budaya yang patut dihargai. Bukan sekadar ramalan, di dalamnya tersimpan kearifan lokal tentang hubungan manusia dengan alam dan leluhur.

Di MistikID, kami mengajak Anda untuk menjelajahi lebih dalam tradisi ini bukan sebagai ramalan mutlak, tetapi sebagai cermin cara masyarakat Bali memahami kehidupan.

Referensi

  1. Eiseman, Fred B. (1990). Bali: Sekala and Niskala. Singapore: Periplus Editions. ISBN 978-0-945971-20-9.

  2. Covarrubias, Miguel (1937). Island of Bali. New York: Alfred A. Knopf. ISBN 978-0-8048-0552-2.

  3. Goris, Roelof (1974). Sekte-Sekte di Bali. Jakarta: Bhratara.

  4. Suarka, I Nyoman (2010). Kearifan Lokal dalam Wariga Bali. Denpasar: Udayana University Press.